Rabu, 30 September 2026

CINTA YANG SALAH ALAMAT (bag 1)

 

Cinta yang Salah Alamat

CINTA YANG SALAH ALAMAT

Seri 1 — Kita yang Diam-Diam

Ada cinta yang dimulai dengan bunga.

Ada pula cinta yang lahir dari surat panjang, tatapan di bawah hujan, atau pertemuan tak sengaja di sebuah kafe.

Namun cinta Rara dan Ganesha bermula dari sebuah penghapus.

Benda kecil berwarna putih yang jatuh dari meja Rara saat pelajaran Matematika di kelas XI SMA.

"Ini punyamu?"

Rara mendongak.

Seorang cowok berdiri di samping mejanya sambil memegang penghapus itu.

Ganesha.

Cowok yang selama ini hanya ia kenal sebagai ketua kelas sebelah. Cowok yang jarang tersenyum, tetapi kalau sudah tersenyum bisa membuat beberapa anak perempuan di sekolah tiba-tiba rajin datang lebih pagi.

"Iya," jawab Rara.

Ganesha menyerahkan penghapus itu.

Jari mereka bersentuhan sebentar.

Hanya sebentar.

Tetapi entah mengapa, sejak hari itu Rara merasa ada sesuatu yang berubah.

Mereka mulai sering bertemu.

Di kantin.

Di perpustakaan.

Di depan gerbang sekolah.

Awalnya kebetulan.

Lalu menjadi kebiasaan.

Sampai akhirnya mereka sadar bahwa yang mereka tunggu setiap hari bukan bel pulang sekolah, melainkan kesempatan untuk bertemu.

Ganesha menyatakan perasaannya tiga bulan kemudian.

Tidak romantis.

Tidak ada bunga.

Tidak ada puisi.

Hanya sebuah pesan singkat.

"Ra, kalau aku bilang aku suka kamu, kamu bakal menjauh nggak?"

Rara membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian tersenyum sendiri.

"Kalau aku bilang aku juga suka, kamu bakal berhenti nanya?"

Malam itu mereka resmi menjadi pasangan.

Namun ada satu masalah.

Keduanya sepakat untuk merahasiakannya.

Bukan karena malu.

Bukan karena tidak serius.

Mereka hanya belum siap menghadapi keluarga masing-masing.

Rara adalah anak tunggal. Sejak lahir, ia hanya memiliki ayah.

Ibunya meninggal ketika melahirkannya.

Ayahnya tidak pernah menikah lagi.

Lelaki itu membesarkan Rara sendirian dengan segala keterbatasannya. Karena itulah Rara sangat menyayangi ayahnya.

Ia takut jika suatu hari mengatakan bahwa ada seorang laki-laki lain dalam hidupnya, ayahnya akan merasa kehilangan.

Sementara Ganesha juga anak tunggal.

Ia dibesarkan ibunya seorang diri sejak perceraian kedua orang tuanya ketika ia duduk di kelas satu SMP.

Hubungan Ganesha dengan ayahnya tidak terlalu dekat.

Ibunya adalah dunianya.

Maka Ganesha pun memilih menyimpan Rara rapat-rapat.

Cinta mereka tumbuh dalam diam.

Mereka pergi bersama tetapi berpura-pura kebetulan bertemu.

Mereka belajar bersama tetapi mengatakan kepada orang tua bahwa ada tugas kelompok.

Mereka saling mengucapkan selamat ulang tahun tepat pukul dua belas malam, tetapi menghapus semua percakapan sebelum pagi.

Lucunya, semakin lama mereka menyembunyikan hubungan, semakin banyak kebohongan kecil yang harus mereka buat.

Dan kebohongan kecil itu akhirnya menjadi bagian dari kisah cinta mereka.


Empat tahun berlalu.

Mereka lulus SMA.

Masuk universitas yang sama.

Bahkan jurusan yang berdekatan.

Kini mereka sudah semester enam.

Hubungan mereka telah melewati masa remaja dan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.

Mereka mulai membicarakan masa depan.

Pekerjaan.

Rumah.

Pernikahan.

Bahkan nama anak.

"Aku mau dua," kata Ganesha suatu malam.

Rara tertawa.

"Kenapa dua?"

"Supaya mereka nggak kesepian."

Rara terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi hanya mereka berdua yang memahami maknanya.

Keduanya sama-sama tumbuh sebagai anak tunggal.

Mereka tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah dan hanya memiliki satu orang tua yang menunggu.

Mungkin karena itulah mereka merasa saling menemukan.

Mereka bukan hanya pasangan.

Mereka adalah dua orang yang sama-sama memahami kesepian.

Setahun terakhir, mereka akhirnya memberanikan diri membuka hubungan kepada orang tua masing-masing.

Rara terlebih dahulu.

Ayahnya hanya diam lama ketika mendengar pengakuan itu.

"Namanya siapa?"

"Ganesha."

"Anak siapa?"

Rara tersenyum gugup.

"Anak Mama—"

Ia berhenti.

"Anak ibunya."

Ayahnya mengangguk.

Tidak banyak bertanya.

Hanya satu pesan.

"Kalau memang dia baik, Ayah ingin bertemu."

Di sisi lain, Ganesha juga menceritakan semuanya kepada ibunya.

Sang ibu tersenyum.

"Jadi selama ini kamu punya pacar?"

Ganesha mengangguk.

"Kenapa baru cerita sekarang?"

"Takut Mama marah."

Ibunya tertawa.

"Kenapa Mama harus marah?"

"Karena aku masih kuliah."

"Pacaran tidak membuat kamu berhenti kuliah, kan?"

Ganesha menggeleng.

"Kalau begitu Mama tidak masalah."

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hubungan mereka tidak lagi menjadi rahasia.

Namun ada satu hal yang belum pernah terjadi.

Rara belum pernah bertemu ibu Ganesha.

Ganesha juga belum pernah bertemu ayah Rara.

Mereka selalu merasa waktu yang tepat akan datang.

Dan akhirnya, waktu itu tiba.

Mereka berencana mempertemukan kedua keluarga.

Sabtu malam.

Di sebuah restoran kecil yang tenang.

Rara sudah mempersiapkan semuanya.

Ganesha juga.

Mereka bahkan sepakat untuk datang lebih awal agar bisa duduk berdampingan sebelum kedua orang tua mereka tiba.

Namun sehari sebelumnya, Rara menerima telepon dari ayahnya.

"Ra, besok jangan bikin acara lain."

"Kenapa, Yah?"

"Ayah mau mengajak kamu makan malam."

Rara mengerutkan dahi.

"Besok?"

"Iya."

"Tapi..."

Ayahnya tertawa kecil.

"Tenang. Ada seseorang yang mau Ayah kenalkan."

Di tempat lain, Ganesha juga menerima telepon dari ibunya.

"Besok malam kosong, kan?"

"Kosong, Ma."

"Bagus. Mama mau mengajak kamu bertemu seseorang."

Ganesha terdiam.

"Siapa?"

"Besok saja."


Malam berikutnya.

Rara datang ke restoran bersama ayahnya.

Ganesha datang beberapa menit kemudian bersama ibunya.

Keduanya sama-sama belum menyadari bahwa mereka berada di restoran yang sama.

Rara mengikuti ayahnya menuju meja di sudut ruangan.

Lalu ia melihat seorang perempuan duduk di sana.

Ganesha masuk dari pintu lain.

Ia mengikuti ibunya.

Lalu berhenti.

Mata mereka bertemu.

Rara membeku.

Ganesha juga.

"Kamu?"

Mereka hampir bersamaan mengucapkannya.

Namun sebelum sempat bertanya, kedua orang tua mereka berdiri.

Ayah Rara tersenyum.

Ibu Ganesha juga.

Kemudian ayah Rara berkata,

"Rara, kenalkan. Ini calon istri Ayah."

Wajah Rara seketika pucat.

Ganesha menatap ibunya.

Perempuan itu tersenyum.

"Ganesha, kenalkan. Ini calon suami Mama."

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Rara memandang Ganesha.

Ganesha memandang Rara.

Empat tahun mereka menyembunyikan cinta.

Setahun mereka mulai berani terbuka.

Dan malam ini, ketika akhirnya kedua keluarga akan dipertemukan...

mereka justru dipertemukan sebagai calon saudara.

Rara menggenggam ujung meja.

Ganesha menelan ludah.

Tak satu pun dari mereka tahu harus berkata apa.

Lalu ayah Rara mengangkat gelas.

"Untuk keluarga baru kita."

Rara dan Ganesha saling berpandangan.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, keduanya berharap...

seandainya mereka tidak pernah jatuh cinta.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CINTA YANG SALAH ALAMAT bag 3 (tamat)

  CINTA YANG SALAH ALAMAT Seri 3 — Bukan Saudara, Bukan Kebetulan Rara menemukan Ganesha di tempat yang sama. Taman kampus. Bangku kayu di b...