Rabu, 30 September 2026

CINTA YANG SALAH ALAMAT bag 3 (tamat)

 


CINTA YANG SALAH ALAMAT

Seri 3 — Bukan Saudara, Bukan Kebetulan

Rara menemukan Ganesha di tempat yang sama.

Taman kampus.

Bangku kayu di bawah pohon tua.

Ganesha sudah menunggunya.

Di tangannya ada sebuah amplop cokelat.

"Kamu menemukan apa?" tanya Rara.

Ganesha tidak langsung menjawab.

Ia menyerahkan amplop itu.

"Ini punya Mama."

Rara membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat lama.

Tulisan tangan.

Nama ayah Rara tercantum di salah satu sudut.

Rara membacanya perlahan.

Semakin jauh membaca, semakin sulit ia bernapas.

"Ayah kita pernah kenal?"

Ganesha mengangguk.

"Jauh sebelum kita lahir."

Rara menatapnya.

"Tapi bagaimana?"

Ganesha menarik napas panjang.

"Ibu bilang mereka pernah bekerja di tempat yang sama."

Rara kembali membaca.

Ternyata bertahun-tahun lalu, ayah Rara dan ibu Ganesha memang pernah bekerja dalam satu proyek sosial.

Mereka bukan pasangan.

Tidak pernah menikah.

Tidak pernah memiliki hubungan romantis.

Namun mereka pernah menjadi sahabat dekat.

Kemudian kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing.

Ayah Rara menikah.

Ibu Ganesha menikah.

Keduanya kemudian kehilangan rumah tangga masing-masing.

Dan puluhan tahun kemudian, mereka bertemu lagi.

"Jadi mereka memang sudah saling mengenal?"

"Iya."

Rara menatap Ganesha.

"Berarti hubungan mereka bukan sesuatu yang tiba-tiba."

"Bukan."

Rara terdiam.

Anehnya, informasi itu justru membuat semuanya terasa sedikit lebih masuk akal.

Mereka bukan dua orang asing yang tiba-tiba jatuh cinta.

Mereka adalah dua orang lama yang dipertemukan kembali setelah sama-sama melewati kehilangan.


Malam itu, Rara dan Ganesha akhirnya mengumpulkan keberanian.

Mereka meminta kedua orang tua duduk bersama.

Empat orang.

Di meja makan.

Untuk pertama kalinya, Rara dan Ganesha berbicara terbuka.

"Ayah, Mama..."

Rara berhenti.

Ia melihat ke arah Ganesha.

Kemudian melanjutkan.

"Kami pacaran."

Ayah Rara mengangguk.

"Kami tahu."

Rara terkejut.

"Kalian tahu?"

Ibu Ganesha tersenyum.

"Sudah lama."

Ganesha mengerutkan dahi.

"Sejak kapan?"

Ayah Rara tertawa.

"Sejak kalian masih SMA."

Rara hampir jatuh dari kursinya.

"Terus kenapa Ayah diam?"

"Karena Ayah tahu kamu akan cerita kalau sudah siap."

Ganesha menatap ibunya.

"Mama juga tahu?"

"Seorang ibu biasanya tahu."

Rara menutup wajah.

"Kenapa tidak bilang?"

Ayahnya tersenyum.

"Karena kalian masih muda."

Kemudian suasana kembali serius.

Rara menggenggam tangan Ganesha.

"Ayah... kalau kalian menikah, kami..."

Ayah Rara mengangkat tangan.

"Rara."

Ia berhenti.

"Kamu takut kalian tidak boleh bersama?"

Rara mengangguk.

Ayahnya tersenyum lembut.

"Menikah dengan ibu Ganesha tidak membuat kalian menjadi saudara kandung."

Ibu Ganesha melanjutkan.

"Kalian tidak memiliki hubungan darah. Tetapi yang lebih penting, kami tidak ingin pernikahan kami menjadi alasan kalian harus kehilangan orang yang kalian cintai."

Ganesha terdiam.

"Jadi Mama tidak keberatan?"

"Tidak."

"Ayah juga?"

Ayah Rara mengangguk.

"Tapi ada satu syarat."

Rara dan Ganesha menatapnya.

"Kalian harus menyelesaikan kuliah."

Rara tertawa di tengah air mata.

"Itu saja?"

"Itu yang paling penting."

Ganesha ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, beban yang menekan dada mereka terasa hilang.


Namun cerita mereka belum selesai.

Pernikahan kedua orang tua mereka dilangsungkan sederhana.

Tidak banyak tamu.

Hanya keluarga dan beberapa sahabat.

Rara berdiri di samping ayahnya.

Ganesha berdiri di samping ibunya.

Ketika kedua orang tua mereka mengucapkan janji pernikahan, Rara menggenggam tangan Ganesha.

Tidak ada lagi rahasia.

Tidak ada lagi perasaan harus bersembunyi.

Mereka akhirnya bisa saling tersenyum di depan semua orang.

Tetapi kehidupan selalu memiliki kejutan.

Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka makan malam bersama.

Ayah Rara tiba-tiba berkata,

"Ngomong-ngomong, Ayah dan Mama punya sesuatu untuk kalian."

Rara langsung curiga.

"Apa lagi?"

Ibu Ganesha tertawa.

"Jangan takut."

Ayah Rara mengeluarkan dua tiket dari sakunya.

"Liburan."

Rara membaca tujuannya.

Bali.

Ganesha bersorak kecil.

Namun di bawah tiket itu terdapat sebuah amplop lain.

"Ini apa?"

Ayah Rara tersenyum.

"Buka."

Rara membuka amplop tersebut.

Isinya sebuah dokumen.

Mereka mendapatkan sebuah rumah kecil.

Bukan untuk ditinggali sekarang.

Melainkan sebagai hadiah setelah mereka lulus.

"Rumah?"

Ganesha terdiam.

Ayah Rara mengangguk.

"Kalian sudah bersama sejak SMA. Kalau memang ingin melanjutkan sampai pernikahan, Ayah ingin membantu memulai kehidupan kalian."

Rara menatap ayahnya.

Air matanya jatuh.

Ia kemudian memeluk lelaki itu.

"Terima kasih, Yah."

Ayahnya menepuk kepalanya.

"Jangan berterima kasih dulu."

"Kenapa?"

"Karena masih ada satu syarat."

Rara tertawa.

"Apa lagi?"

Ayahnya menunjuk Ganesha.

"Dia harus tetap berani datang ke rumah setiap minggu."

Ganesha tertawa.

"Siap, Yah."


Tiga tahun kemudian.

Rara berdiri di depan cermin.

Gaun putih sederhana membungkus tubuhnya.

Di luar kamar terdengar suara orang-orang.

Tawa.

Tangis.

Musik.

Dan suara ayahnya yang sedang berbicara dengan seseorang.

Pintu diketuk.

"Rara."

Suara Ganesha.

Rara tersenyum.

"Jangan masuk."

"Aku cuma mau bilang sesuatu."

"Apa?"

"Empat tahun lalu kamu menerima penghapus dariku."

Rara tertawa.

"Kenapa tiba-tiba membahas penghapus?"

"Karena ternyata benda itu mengubah hidupku."

Rara diam.

Ganesha melanjutkan dari balik pintu.

"Kalau hari itu penghapusmu tidak jatuh..."

Rara menyandarkan kepalanya ke pintu.

"Mungkin kita tidak akan bertemu."

"Mungkin."

"Mungkin kita tidak akan pacaran."

"Mungkin."

"Mungkin orang tua kita juga tidak akan menikah."

Ganesha tertawa.

"Yang terakhir itu justru di luar rencana."

Rara ikut tertawa.

Kemudian suara Ganesha berubah lembut.

"Ra."

"Hmm?"

"Aku mencintaimu."

Rara menutup mata.

Kalimat itu sudah pernah ia dengar ratusan kali.

Namun hari ini terasa berbeda.

"Aku juga mencintaimu."

Pintu terbuka.

Mereka saling memandang.

Tidak ada lagi rasa takut.

Tidak ada lagi cinta yang harus disembunyikan.

Tidak ada lagi pertanyaan tentang bagaimana hubungan mereka akan berakhir.

Karena mereka akhirnya memahami satu hal.

Cinta tidak selalu datang melalui jalan yang mudah.

Kadang cinta membawa seseorang melewati rahasia.

Kadang cinta mempertemukan dua keluarga dengan cara yang tidak masuk akal.

Kadang cinta membuat dua orang takut kehilangan segalanya.

Tetapi jika mereka terus memilih untuk saling memahami, perjalanan panjang itu mungkin bukan kesalahan.

Mungkin...

memang begitulah cara kehidupan mempertemukan mereka.

Rara tersenyum.

"Gan."

"Iya?"

"Kalau waktu bisa diulang..."

"Kenapa?"

"Aku akan menjatuhkan penghapus itu lagi."

Ganesha tertawa.

"Kalau begitu aku akan tetap mengambilnya."

Dan hari itu, di hadapan keluarga yang dahulu mereka takutkan akan menjadi penghalang, Rara dan Ganesha akhirnya mengucapkan janji.

Bukan sebagai dua anak yang kebetulan jatuh cinta.

Bukan sebagai calon saudara tiri.

Melainkan sebagai dua manusia yang sejak masa SMA telah memilih satu sama lain.

Sebab pada akhirnya, mereka sadar:

mereka bukan cinta yang salah.

Mereka hanya bertemu melalui jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.

CINTA YANG SALAH ALAMAT Bag 2

 

CINTA YANG SALAH ALAMAT

CINTA YANG SALAH ALAMAT

Seri 2 — Keluarga yang Tak Pernah Kami Bayangkan

Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik.

Bahkan suara sendok dan piring dari meja lain terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Rara masih menatap Ganesha.

Ganesha masih menatap Rara.

Di antara mereka ada sebuah meja makan.

Namun rasanya seperti ada jurang yang tiba-tiba terbentang.

"Rara?"

Suara ayahnya membuat gadis itu tersadar.

"Iya, Yah."

"Kamu tidak senang?"

Rara membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar.

Di sisi lain, Ganesha berusaha tersenyum.

"Selamat, Ma."

Ibunya tersenyum lega.

"Mama pikir kamu akan senang."

Ganesha mengangguk.

"Sangat."

Kata itu terasa seperti kebohongan paling berat yang pernah ia ucapkan.

Malam itu berubah menjadi makan malam paling aneh dalam hidup mereka.

Kedua orang tua mereka berbicara tentang rencana pernikahan.

Tentang rumah.

Tentang tanggal.

Tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu.

Tentang kehidupan baru yang akan mereka jalani.

Sementara Rara dan Ganesha duduk berseberangan.

Mereka tidak berani saling menatap terlalu lama.

Karena setiap kali mata mereka bertemu, ada pertanyaan yang sama.

Bagaimana dengan kita?


Setelah makan malam selesai, Rara pulang bersama ayahnya.

Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela.

"Ayah."

"Hmm?"

"Sejak kapan Ayah kenal dengan ibu Ganesha?"

Ayahnya tersenyum.

"Beberapa bulan."

"Kenapa Ayah tidak pernah cerita?"

"Ayah belum yakin."

Rara terdiam.

Kemudian pertanyaan paling sulit akhirnya keluar.

"Ayah serius mau menikah?"

Ayahnya menoleh sekilas.

"Serius."

Jawaban itu menghantam Rara lebih keras daripada yang ia bayangkan.

Ia tahu ayahnya kesepian.

Ia tahu selama bertahun-tahun ayahnya hidup hanya untuk dirinya.

Ia juga tahu ayahnya berhak bahagia.

Tetapi kebahagiaan ayahnya tiba-tiba datang bersama sesuatu yang bisa menghancurkan kebahagiaannya sendiri.

Malam itu Rara menangis diam-diam di kamar.

Bukan karena ia membenci calon ibu tirinya.

Bukan pula karena ia tidak ingin ayahnya menikah.

Ia menangis karena lelaki yang ia cintai akan menjadi anak dari perempuan yang akan menikah dengan ayahnya.

Dan itu berarti...

mereka tidak mungkin lagi menjadi pasangan seperti sebelumnya.


Ganesha mengalami malam yang sama.

Ia duduk di teras rumah bersama ibunya.

"Ma."

"Iya?"

"Kenapa Mama mau menikah?"

Ibunya terdiam sebentar.

"Karena Mama ingin punya teman untuk menjalani sisa hidup."

Ganesha menunduk.

"Mama bahagia?"

"Bahagia."

Jawaban itu membuat Ganesha kehilangan alasan untuk menolak.

Ia mencintai ibunya.

Setelah perceraian bertahun-tahun lalu, ia melihat sendiri bagaimana ibunya membesarkannya.

Tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah memaksa dirinya untuk menikah lagi.

Tidak pernah menjadikan Ganesha alasan untuk berhenti hidup.

Kini perempuan itu menemukan seseorang.

Dan Ganesha tidak tega merusaknya.

Tetapi bagaimana dengan Rara?

Pertanyaan itu terus menghantuinya.


Pukul 23.47.

Ponsel Rara bergetar.

Satu pesan.

"Kita harus bicara."

Ganesha.

Rara menatap layar cukup lama.

Kemudian membalas.

"Besok."

"Aku takut besok kita sudah terlambat."

Rara memejamkan mata.

Air matanya kembali jatuh.

Ia mengetik.

"Aku juga takut."


Mereka bertemu di taman kampus keesokan sore.

Tempat yang selama ini menjadi tempat favorit mereka.

Bangku kayu di bawah pohon besar.

Mereka duduk bersebelahan.

Tetapi kali ini tidak ada tangan yang saling menggenggam.

"Aku tidak mau kehilangan kamu," kata Ganesha.

Rara menatap tanah.

"Aku juga."

"Kalau begitu kita cari jalan."

"Jalan apa?"

Ganesha terdiam.

Tidak ada jawaban mudah.

Mereka bisa mempertahankan hubungan.

Tetapi bagaimana?

Jika orang tua mereka menikah, hubungan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Mereka akan tinggal dalam keluarga yang sama.

Mereka mungkin akan dianggap saudara.

Bahkan jika tidak memiliki hubungan darah, status keluarga itu akan membuat semuanya menjadi rumit.

"Aku bisa bicara sama Mama," kata Ganesha.

Rara menggeleng.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu bagaimana rasanya menjadi anak tunggal."

Ganesha menatapnya.

"Kalau kita memaksa mereka memilih antara kebahagiaan mereka dan hubungan kita, kita akan membuat salah satu dari mereka terluka."

Ganesha diam.

Rara melanjutkan.

"Ayahku sudah sendirian selama lebih dari dua puluh tahun."

Ia menahan air mata.

"Dan ibumu juga."

Ganesha menunduk.

Ia tahu Rara benar.

Namun mengetahui sesuatu benar tidak membuatnya lebih mudah diterima.

"Aku benci keadaan ini."

"Aku juga."

"Tapi aku lebih benci kalau kita menyerah."

Rara menoleh.

Mata mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Ganesha menggenggam tangan Rara.

"Kalau mereka menikah, kita tetap bersama."

Rara menggigit bibir.

"Jangan bilang begitu kalau kamu belum siap dengan akibatnya."

"Aku siap."

"Gan..."

"Aku sudah mencintai kamu sejak SMA."

Rara tersenyum sedih.

"Aku juga."


Beberapa hari kemudian, keluarga mereka mulai sibuk mempersiapkan pernikahan.

Rara dan Ganesha berusaha menjalani kehidupan seperti biasa.

Kuliah.

Tugas.

Organisasi.

Ujian.

Tetapi tidak ada yang benar-benar biasa lagi.

Orang tua mereka semakin dekat.

Mereka mulai sering bertemu.

Bahkan suatu sore, ayah Rara mengajak Ganesha makan malam.

"Anggap saja latihan menjadi keluarga," katanya sambil tertawa.

Ganesha hanya tersenyum.

Sementara Rara yang mendengar dari ruang tengah hampir tersedak.

Situasi semakin rumit ketika ibu Ganesha mulai sering datang ke rumah Rara.

Keduanya ternyata memiliki banyak kesamaan.

Sama-sama menyukai tanaman.

Sama-sama tidak terlalu suka keramaian.

Sama-sama menyukai kopi pahit.

Rara mulai merasa bersalah karena tidak mampu membenci perempuan itu.

Justru sebaliknya.

Ia mulai menyukai calon ibu tirinya.

Dan itu membuat semuanya semakin sulit.


Sebulan berlalu.

Pada suatu malam, Rara menemukan sebuah album foto lama milik ayahnya.

Ia membuka satu per satu.

Foto masa kecil.

Foto pernikahan orang tuanya.

Foto ibunya ketika sedang hamil.

Kemudian sebuah foto membuat Rara berhenti.

Foto ibunya sedang tersenyum bersama seorang perempuan lain.

Perempuan yang tidak dikenalnya.

Di belakang foto tertulis sebuah tanggal.

Dan satu kalimat:

"Terima kasih sudah menyelamatkanku saat itu."

Rara mengernyitkan dahi.

Ia membawa foto itu kepada ayahnya.

"Ayah, ini siapa?"

Ayahnya yang sedang membaca koran mendadak diam.

Wajahnya berubah.

"Rara, dari mana kamu dapat foto itu?"

"Dari album."

Ayahnya berdiri.

Mengambil foto tersebut.

Tangannya sedikit gemetar.

"Foto ini seharusnya sudah tidak ada."

Rara semakin penasaran.

"Ayah kenal perempuan ini?"

Ayahnya tidak menjawab.

"Yah?"

Beberapa detik kemudian, ayahnya menghela napas.

"Dia..."

Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Rara berbunyi.

Pesan dari Ganesha.

"Ra, aku baru menemukan sesuatu tentang hubungan orang tua kita."

Rara membalas cepat.

"Apa?"

Pesan berikutnya masuk.

"Kita harus ketemu sekarang."

Rara menatap ayahnya.

Ayahnya menatap foto lama di tangannya.

Dan untuk pertama kalinya, Rara melihat sesuatu di mata ayahnya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ketakutan.

BERSAMBUNG...

CINTA YANG SALAH ALAMAT (bag 1)

 

Cinta yang Salah Alamat

CINTA YANG SALAH ALAMAT

Seri 1 — Kita yang Diam-Diam

Ada cinta yang dimulai dengan bunga.

Ada pula cinta yang lahir dari surat panjang, tatapan di bawah hujan, atau pertemuan tak sengaja di sebuah kafe.

Namun cinta Rara dan Ganesha bermula dari sebuah penghapus.

Benda kecil berwarna putih yang jatuh dari meja Rara saat pelajaran Matematika di kelas XI SMA.

"Ini punyamu?"

Rara mendongak.

Seorang cowok berdiri di samping mejanya sambil memegang penghapus itu.

Ganesha.

Cowok yang selama ini hanya ia kenal sebagai ketua kelas sebelah. Cowok yang jarang tersenyum, tetapi kalau sudah tersenyum bisa membuat beberapa anak perempuan di sekolah tiba-tiba rajin datang lebih pagi.

"Iya," jawab Rara.

Ganesha menyerahkan penghapus itu.

Jari mereka bersentuhan sebentar.

Hanya sebentar.

Tetapi entah mengapa, sejak hari itu Rara merasa ada sesuatu yang berubah.

Mereka mulai sering bertemu.

Di kantin.

Di perpustakaan.

Di depan gerbang sekolah.

Awalnya kebetulan.

Lalu menjadi kebiasaan.

Sampai akhirnya mereka sadar bahwa yang mereka tunggu setiap hari bukan bel pulang sekolah, melainkan kesempatan untuk bertemu.

Ganesha menyatakan perasaannya tiga bulan kemudian.

Tidak romantis.

Tidak ada bunga.

Tidak ada puisi.

Hanya sebuah pesan singkat.

"Ra, kalau aku bilang aku suka kamu, kamu bakal menjauh nggak?"

Rara membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian tersenyum sendiri.

"Kalau aku bilang aku juga suka, kamu bakal berhenti nanya?"

Malam itu mereka resmi menjadi pasangan.

Namun ada satu masalah.

Keduanya sepakat untuk merahasiakannya.

Bukan karena malu.

Bukan karena tidak serius.

Mereka hanya belum siap menghadapi keluarga masing-masing.

Rara adalah anak tunggal. Sejak lahir, ia hanya memiliki ayah.

Ibunya meninggal ketika melahirkannya.

Ayahnya tidak pernah menikah lagi.

Lelaki itu membesarkan Rara sendirian dengan segala keterbatasannya. Karena itulah Rara sangat menyayangi ayahnya.

Ia takut jika suatu hari mengatakan bahwa ada seorang laki-laki lain dalam hidupnya, ayahnya akan merasa kehilangan.

Sementara Ganesha juga anak tunggal.

Ia dibesarkan ibunya seorang diri sejak perceraian kedua orang tuanya ketika ia duduk di kelas satu SMP.

Hubungan Ganesha dengan ayahnya tidak terlalu dekat.

Ibunya adalah dunianya.

Maka Ganesha pun memilih menyimpan Rara rapat-rapat.

Cinta mereka tumbuh dalam diam.

Mereka pergi bersama tetapi berpura-pura kebetulan bertemu.

Mereka belajar bersama tetapi mengatakan kepada orang tua bahwa ada tugas kelompok.

Mereka saling mengucapkan selamat ulang tahun tepat pukul dua belas malam, tetapi menghapus semua percakapan sebelum pagi.

Lucunya, semakin lama mereka menyembunyikan hubungan, semakin banyak kebohongan kecil yang harus mereka buat.

Dan kebohongan kecil itu akhirnya menjadi bagian dari kisah cinta mereka.


Empat tahun berlalu.

Mereka lulus SMA.

Masuk universitas yang sama.

Bahkan jurusan yang berdekatan.

Kini mereka sudah semester enam.

Hubungan mereka telah melewati masa remaja dan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.

Mereka mulai membicarakan masa depan.

Pekerjaan.

Rumah.

Pernikahan.

Bahkan nama anak.

"Aku mau dua," kata Ganesha suatu malam.

Rara tertawa.

"Kenapa dua?"

"Supaya mereka nggak kesepian."

Rara terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi hanya mereka berdua yang memahami maknanya.

Keduanya sama-sama tumbuh sebagai anak tunggal.

Mereka tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah dan hanya memiliki satu orang tua yang menunggu.

Mungkin karena itulah mereka merasa saling menemukan.

Mereka bukan hanya pasangan.

Mereka adalah dua orang yang sama-sama memahami kesepian.

Setahun terakhir, mereka akhirnya memberanikan diri membuka hubungan kepada orang tua masing-masing.

Rara terlebih dahulu.

Ayahnya hanya diam lama ketika mendengar pengakuan itu.

"Namanya siapa?"

"Ganesha."

"Anak siapa?"

Rara tersenyum gugup.

"Anak Mama—"

Ia berhenti.

"Anak ibunya."

Ayahnya mengangguk.

Tidak banyak bertanya.

Hanya satu pesan.

"Kalau memang dia baik, Ayah ingin bertemu."

Di sisi lain, Ganesha juga menceritakan semuanya kepada ibunya.

Sang ibu tersenyum.

"Jadi selama ini kamu punya pacar?"

Ganesha mengangguk.

"Kenapa baru cerita sekarang?"

"Takut Mama marah."

Ibunya tertawa.

"Kenapa Mama harus marah?"

"Karena aku masih kuliah."

"Pacaran tidak membuat kamu berhenti kuliah, kan?"

Ganesha menggeleng.

"Kalau begitu Mama tidak masalah."

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hubungan mereka tidak lagi menjadi rahasia.

Namun ada satu hal yang belum pernah terjadi.

Rara belum pernah bertemu ibu Ganesha.

Ganesha juga belum pernah bertemu ayah Rara.

Mereka selalu merasa waktu yang tepat akan datang.

Dan akhirnya, waktu itu tiba.

Mereka berencana mempertemukan kedua keluarga.

Sabtu malam.

Di sebuah restoran kecil yang tenang.

Rara sudah mempersiapkan semuanya.

Ganesha juga.

Mereka bahkan sepakat untuk datang lebih awal agar bisa duduk berdampingan sebelum kedua orang tua mereka tiba.

Namun sehari sebelumnya, Rara menerima telepon dari ayahnya.

"Ra, besok jangan bikin acara lain."

"Kenapa, Yah?"

"Ayah mau mengajak kamu makan malam."

Rara mengerutkan dahi.

"Besok?"

"Iya."

"Tapi..."

Ayahnya tertawa kecil.

"Tenang. Ada seseorang yang mau Ayah kenalkan."

Di tempat lain, Ganesha juga menerima telepon dari ibunya.

"Besok malam kosong, kan?"

"Kosong, Ma."

"Bagus. Mama mau mengajak kamu bertemu seseorang."

Ganesha terdiam.

"Siapa?"

"Besok saja."


Malam berikutnya.

Rara datang ke restoran bersama ayahnya.

Ganesha datang beberapa menit kemudian bersama ibunya.

Keduanya sama-sama belum menyadari bahwa mereka berada di restoran yang sama.

Rara mengikuti ayahnya menuju meja di sudut ruangan.

Lalu ia melihat seorang perempuan duduk di sana.

Ganesha masuk dari pintu lain.

Ia mengikuti ibunya.

Lalu berhenti.

Mata mereka bertemu.

Rara membeku.

Ganesha juga.

"Kamu?"

Mereka hampir bersamaan mengucapkannya.

Namun sebelum sempat bertanya, kedua orang tua mereka berdiri.

Ayah Rara tersenyum.

Ibu Ganesha juga.

Kemudian ayah Rara berkata,

"Rara, kenalkan. Ini calon istri Ayah."

Wajah Rara seketika pucat.

Ganesha menatap ibunya.

Perempuan itu tersenyum.

"Ganesha, kenalkan. Ini calon suami Mama."

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Rara memandang Ganesha.

Ganesha memandang Rara.

Empat tahun mereka menyembunyikan cinta.

Setahun mereka mulai berani terbuka.

Dan malam ini, ketika akhirnya kedua keluarga akan dipertemukan...

mereka justru dipertemukan sebagai calon saudara.

Rara menggenggam ujung meja.

Ganesha menelan ludah.

Tak satu pun dari mereka tahu harus berkata apa.

Lalu ayah Rara mengangkat gelas.

"Untuk keluarga baru kita."

Rara dan Ganesha saling berpandangan.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, keduanya berharap...

seandainya mereka tidak pernah jatuh cinta.

BERSAMBUNG...

CINTA YANG SALAH ALAMAT bag 3 (tamat)

  CINTA YANG SALAH ALAMAT Seri 3 — Bukan Saudara, Bukan Kebetulan Rara menemukan Ganesha di tempat yang sama. Taman kampus. Bangku kayu di b...