CINTA YANG SALAH ALAMAT
Seri 3 — Bukan Saudara, Bukan Kebetulan
Rara menemukan Ganesha di tempat yang sama.
Taman kampus.
Bangku kayu di bawah pohon tua.
Ganesha sudah menunggunya.
Di tangannya ada sebuah amplop cokelat.
"Kamu menemukan apa?" tanya Rara.
Ganesha tidak langsung menjawab.
Ia menyerahkan amplop itu.
"Ini punya Mama."
Rara membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat lama.
Tulisan tangan.
Nama ayah Rara tercantum di salah satu sudut.
Rara membacanya perlahan.
Semakin jauh membaca, semakin sulit ia bernapas.
"Ayah kita pernah kenal?"
Ganesha mengangguk.
"Jauh sebelum kita lahir."
Rara menatapnya.
"Tapi bagaimana?"
Ganesha menarik napas panjang.
"Ibu bilang mereka pernah bekerja di tempat yang sama."
Rara kembali membaca.
Ternyata bertahun-tahun lalu, ayah Rara dan ibu Ganesha memang pernah bekerja dalam satu proyek sosial.
Mereka bukan pasangan.
Tidak pernah menikah.
Tidak pernah memiliki hubungan romantis.
Namun mereka pernah menjadi sahabat dekat.
Kemudian kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing.
Ayah Rara menikah.
Ibu Ganesha menikah.
Keduanya kemudian kehilangan rumah tangga masing-masing.
Dan puluhan tahun kemudian, mereka bertemu lagi.
"Jadi mereka memang sudah saling mengenal?"
"Iya."
Rara menatap Ganesha.
"Berarti hubungan mereka bukan sesuatu yang tiba-tiba."
"Bukan."
Rara terdiam.
Anehnya, informasi itu justru membuat semuanya terasa sedikit lebih masuk akal.
Mereka bukan dua orang asing yang tiba-tiba jatuh cinta.
Mereka adalah dua orang lama yang dipertemukan kembali setelah sama-sama melewati kehilangan.
Malam itu, Rara dan Ganesha akhirnya mengumpulkan keberanian.
Mereka meminta kedua orang tua duduk bersama.
Empat orang.
Di meja makan.
Untuk pertama kalinya, Rara dan Ganesha berbicara terbuka.
"Ayah, Mama..."
Rara berhenti.
Ia melihat ke arah Ganesha.
Kemudian melanjutkan.
"Kami pacaran."
Ayah Rara mengangguk.
"Kami tahu."
Rara terkejut.
"Kalian tahu?"
Ibu Ganesha tersenyum.
"Sudah lama."
Ganesha mengerutkan dahi.
"Sejak kapan?"
Ayah Rara tertawa.
"Sejak kalian masih SMA."
Rara hampir jatuh dari kursinya.
"Terus kenapa Ayah diam?"
"Karena Ayah tahu kamu akan cerita kalau sudah siap."
Ganesha menatap ibunya.
"Mama juga tahu?"
"Seorang ibu biasanya tahu."
Rara menutup wajah.
"Kenapa tidak bilang?"
Ayahnya tersenyum.
"Karena kalian masih muda."
Kemudian suasana kembali serius.
Rara menggenggam tangan Ganesha.
"Ayah... kalau kalian menikah, kami..."
Ayah Rara mengangkat tangan.
"Rara."
Ia berhenti.
"Kamu takut kalian tidak boleh bersama?"
Rara mengangguk.
Ayahnya tersenyum lembut.
"Menikah dengan ibu Ganesha tidak membuat kalian menjadi saudara kandung."
Ibu Ganesha melanjutkan.
"Kalian tidak memiliki hubungan darah. Tetapi yang lebih penting, kami tidak ingin pernikahan kami menjadi alasan kalian harus kehilangan orang yang kalian cintai."
Ganesha terdiam.
"Jadi Mama tidak keberatan?"
"Tidak."
"Ayah juga?"
Ayah Rara mengangguk.
"Tapi ada satu syarat."
Rara dan Ganesha menatapnya.
"Kalian harus menyelesaikan kuliah."
Rara tertawa di tengah air mata.
"Itu saja?"
"Itu yang paling penting."
Ganesha ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, beban yang menekan dada mereka terasa hilang.
Namun cerita mereka belum selesai.
Pernikahan kedua orang tua mereka dilangsungkan sederhana.
Tidak banyak tamu.
Hanya keluarga dan beberapa sahabat.
Rara berdiri di samping ayahnya.
Ganesha berdiri di samping ibunya.
Ketika kedua orang tua mereka mengucapkan janji pernikahan, Rara menggenggam tangan Ganesha.
Tidak ada lagi rahasia.
Tidak ada lagi perasaan harus bersembunyi.
Mereka akhirnya bisa saling tersenyum di depan semua orang.
Tetapi kehidupan selalu memiliki kejutan.
Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka makan malam bersama.
Ayah Rara tiba-tiba berkata,
"Ngomong-ngomong, Ayah dan Mama punya sesuatu untuk kalian."
Rara langsung curiga.
"Apa lagi?"
Ibu Ganesha tertawa.
"Jangan takut."
Ayah Rara mengeluarkan dua tiket dari sakunya.
"Liburan."
Rara membaca tujuannya.
Bali.
Ganesha bersorak kecil.
Namun di bawah tiket itu terdapat sebuah amplop lain.
"Ini apa?"
Ayah Rara tersenyum.
"Buka."
Rara membuka amplop tersebut.
Isinya sebuah dokumen.
Mereka mendapatkan sebuah rumah kecil.
Bukan untuk ditinggali sekarang.
Melainkan sebagai hadiah setelah mereka lulus.
"Rumah?"
Ganesha terdiam.
Ayah Rara mengangguk.
"Kalian sudah bersama sejak SMA. Kalau memang ingin melanjutkan sampai pernikahan, Ayah ingin membantu memulai kehidupan kalian."
Rara menatap ayahnya.
Air matanya jatuh.
Ia kemudian memeluk lelaki itu.
"Terima kasih, Yah."
Ayahnya menepuk kepalanya.
"Jangan berterima kasih dulu."
"Kenapa?"
"Karena masih ada satu syarat."
Rara tertawa.
"Apa lagi?"
Ayahnya menunjuk Ganesha.
"Dia harus tetap berani datang ke rumah setiap minggu."
Ganesha tertawa.
"Siap, Yah."
Tiga tahun kemudian.
Rara berdiri di depan cermin.
Gaun putih sederhana membungkus tubuhnya.
Di luar kamar terdengar suara orang-orang.
Tawa.
Tangis.
Musik.
Dan suara ayahnya yang sedang berbicara dengan seseorang.
Pintu diketuk.
"Rara."
Suara Ganesha.
Rara tersenyum.
"Jangan masuk."
"Aku cuma mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Empat tahun lalu kamu menerima penghapus dariku."
Rara tertawa.
"Kenapa tiba-tiba membahas penghapus?"
"Karena ternyata benda itu mengubah hidupku."
Rara diam.
Ganesha melanjutkan dari balik pintu.
"Kalau hari itu penghapusmu tidak jatuh..."
Rara menyandarkan kepalanya ke pintu.
"Mungkin kita tidak akan bertemu."
"Mungkin."
"Mungkin kita tidak akan pacaran."
"Mungkin."
"Mungkin orang tua kita juga tidak akan menikah."
Ganesha tertawa.
"Yang terakhir itu justru di luar rencana."
Rara ikut tertawa.
Kemudian suara Ganesha berubah lembut.
"Ra."
"Hmm?"
"Aku mencintaimu."
Rara menutup mata.
Kalimat itu sudah pernah ia dengar ratusan kali.
Namun hari ini terasa berbeda.
"Aku juga mencintaimu."
Pintu terbuka.
Mereka saling memandang.
Tidak ada lagi rasa takut.
Tidak ada lagi cinta yang harus disembunyikan.
Tidak ada lagi pertanyaan tentang bagaimana hubungan mereka akan berakhir.
Karena mereka akhirnya memahami satu hal.
Cinta tidak selalu datang melalui jalan yang mudah.
Kadang cinta membawa seseorang melewati rahasia.
Kadang cinta mempertemukan dua keluarga dengan cara yang tidak masuk akal.
Kadang cinta membuat dua orang takut kehilangan segalanya.
Tetapi jika mereka terus memilih untuk saling memahami, perjalanan panjang itu mungkin bukan kesalahan.
Mungkin...
memang begitulah cara kehidupan mempertemukan mereka.
Rara tersenyum.
"Gan."
"Iya?"
"Kalau waktu bisa diulang..."
"Kenapa?"
"Aku akan menjatuhkan penghapus itu lagi."
Ganesha tertawa.
"Kalau begitu aku akan tetap mengambilnya."
Dan hari itu, di hadapan keluarga yang dahulu mereka takutkan akan menjadi penghalang, Rara dan Ganesha akhirnya mengucapkan janji.
Bukan sebagai dua anak yang kebetulan jatuh cinta.
Bukan sebagai calon saudara tiri.
Melainkan sebagai dua manusia yang sejak masa SMA telah memilih satu sama lain.
Sebab pada akhirnya, mereka sadar:
mereka bukan cinta yang salah.
Mereka hanya bertemu melalui jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar